While nenek-mu panik ya diedukasilah bukan malah ikut-ikutan wondering “ikut panik jangan yah?”
Pagi-pagi nenekku udah
nyapu aja (ga biasanya). “Loh nek, ga jualan?” Aku bertanya. “Enggak ah, takut
Corona” jawab sang Nenek. Aku Cuma bisa mangap-mangap ahh, Corona (semua
percakapan terjadi dalam Bahasa Sunda).
Oke, aku adalah cucu dari seorang
nenek yang punya usaha jualan Nasi Timbel yang cukup populer di tiga kampung
sekitar. Kampung tersebut terletak di sebuah kabupaten di Jawa Barat, dan
jaraknya pun cukup jauh ke kota. Kabupaten tersebut pun, termasuk kampungku, ikut
bagian dari lock – down selama 14
hari.
Meskipun pelajar dan mahasiswa
belajar dirumah, tetapi jalanan masih ramai-ramai saja. Yogya, Alfa dan Indo
buka sebagaimana mestinya. Tempat makan, dan pasar-pasar pun masih ramai
pengunjungnya. Buruh pabrik masih tetap sama jam kerjanya, kanena karyawan
tergolong umbi-umbian katanya (ada meme-nya). Tapi kabarnya, ada yang resepsi
nikah yang ditunda.
Baru-baru ini beredar kabar, kalu
ada yang meninggal didalam bis dan dilarikan ke RSUD kabutaen tersebut,
dikarenakan Covid-19 (akun IG kabupaten tersebut menyatakan Hoax). Kabar
tersebut sampai ke nenek ku, tapi dia masih dalam tahap bilang “ih, sararieun” (ih serem) dan masih
tetap jualan seperti biasanya. Nenekku baru mau berhenti berjualan, setelah –
sekitar satu minggu setelah lock – down
dimulai– dengar kabar kalau, korban
meninggal akibat Covid-19 tidak dikuburkan dengan layak.
Nenek ku berhenti jualan,
pelanggannya pada kerumah tanya kenapa? Takut katanya, tapi dia masih ikut Rajaban,
ke masjid deket rumah dan tak lupa masjid kampung sebelah. Takut katanya, tapi
masih datang ke pengajian mingguan. Come
on, Nek!
Semuanya terjadi karena nenekku gak
punya akun Facebook, WA, Intagram, Twitter ataupun social media lainnya.
Nenekku gak main gadget, gak baca atau nonton berita, nyalain tv sinetron
nontonya. Nenekku gatau apa itu social
distancing dan apa yang harus dilakukannya. Yahh, maklumlah kan,
nenek-nenek namanya.
Sebagai kaum milenial, sebagai
mahluk yang main di dunia maya dan sebagai cucu yang baik, aku berusaha untuk
mengedukasi nenekku. Neneknya dikasih tau mana yang bener mana yang hoax.
Tetapi ditengah pencarianku aku malah menemukan hal seperti ini:
Dengan caption, “ini benar engga
guys?” Dikirim temanku di grup Whatsapp kelas. It means, orang yang kirim tuh main gadget, karena punya WA plus lagi dia mahasiswa, karena sekelas
bareng gua. Come on, Dude!
Dia tidak akan terima jika aku
edukasi seperti nenekku juga. Cik atulah,
kamu sebagai anak muda, mahasiswa pula, bisa baca engga mungkin engga, ada
kuota pastinya, mafaatkan semua fasilitasnya. Edukasi keluarganya kalau bisa
orang disekitarnya juga. Bukan malah ikut-ikutan paniknya, apalagi sebar berita
yang belum jelas sumbernya.
*PS: tulisan seorang cucu yang mencoba being multilingual.
